Seorang manajer dibayar untuk membuat keputusan. Peter Drucker, bapak manajemen modern, pernah berkata bahwa
Apa pun yang dilakukan manajer, ia melakukannya melalui pembuatan keputusan.
Apakah itu memutuskan siapa yang harus direkrut, bagaimana mengalokasikan anggaran, atau apakah perlu meluncurkan produk baru, kualitas keputusan seorang manajer akan menentukan nasib organisasi. Dalam artikel ini, kita akan membedah anatomi pengambilan keputusan: dari jenisnya, model teoritisnya, hingga langkah-langkah praktisnya.
Definisi dan Jenis Keputusan
Pengambilan keputusan didefinisikan sebagai tindakan memilih satu alternatif dari serangkaian alternatif. Berdasarkan Griffin (2016) dan Misra (2015), keputusan manajerial dibagi menjadi dua kategori utama:
A. Keputusan Terprogram (Programmed Decisions)
Ini adalah keputusan yang berulang, rutin, dan memiliki prosedur yang jelas.
-
Karakteristik: Terstruktur, frekuensi tinggi, risiko rendah.
-
Contoh: Memesan ulang kertas printer saat stok menipis, atau menyusun jadwal shift mingguan karyawan. Manajer tidak perlu berpikir panjang; cukup ikuti aturan atau SOP (Prosedur Operasional Standar) yang sudah ada.
B. Keputusan Tidak Terprogram (Non-programmed Decisions)
Ini adalah keputusan yang dibuat sebagai respons terhadap situasi yang unik, tidak terstruktur, atau baru.
-
Karakteristik: Tidak terstruktur, frekuensi jarang, risiko tinggi, informasi tidak lengkap.
-
Contoh: Memutuskan untuk melakukan merger dengan perusahaan lain, memasuki pasar internasional baru, atau menangani krisis PR mendadak. Keputusan ini menuntut intuisi, kreativitas, dan penilaian manajerial yang mendalam.
Tiga Kondisi Pengambilan Keputusan
Manajer jarang memiliki kemewahan untuk memutuskan sesuatu dengan informasi 100% lengkap. Menurut Griffin, ada tiga kondisi yang dihadapi:
-
Kepastian (Certainty): Manajer tahu persis apa yang akan terjadi dari setiap alternatif (sangat jarang terjadi).
-
Risiko (Risk): Manajer tidak tahu pasti hasilnya, tetapi dapat memperkirakan probabilitas keberhasilannya (misal: peluang sukses produk baru adalah 70%).
-
Ketidakpastian (Uncertainty): Manajer tidak mengetahui semua alternatif dan risikonya, bahkan tidak bisa menebak probabilitasnya. Ini adalah kondisi paling sulit.
Model Pengambilan Keputusan: Rasional vs. Realistis
Bagaimana seharusnya manajer mengambil keputusan? Ada dua aliran pemikiran utama dalam teori manajemen:
A. Model Klasik (Rasional)
Model ini bersifat preskriptif yang menjelaskan bagaimana manajer seharusnya mengambil tindakan:
-
Asumsi: Manajer memiliki informasi lengkap, bersikap logis, tidak emosional, dan selalu memilih opsi yang memaksimalikan keuntungan ekonomi bagi organisasi.
-
Kritik: Di dunia nyata, manajer jarang memiliki informasi sempurna atau waktu tak terbatas.
B. Model Administratif (Bounded Rationality)
Diperkenalkan oleh peraih Nobel Herbert Simon, model ini bersifat deskriptif dengan menjelaskan bagaimana manajer sebenarnya bertindak:
-
Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality): Manusia memiliki keterbatasan kognitif. Kita tidak bisa memproses semua informasi yang ada.
-
Satisficing (Bukan Maximizing): Karena keterbatasan itu, manajer tidak mencari solusi yang "sempurna" (maksimal). Sebaliknya, mereka mencari solusi pertama yang dianggap "cukup baik" atau memuaskan (satisfactory + sufficing = satisficing).
Proses Pengambilan Keputusan (Langkah-demi-Langkah)
Meskipun tidak selalu rasional sempurna, manajer yang efektif mengikuti proses sistematis untuk meminimalkan kesalahan. Berikut adalah 6 langkah standar yang dirangkum dari Principles of Management (OpenStax):

Sumber: Penulis
1. Identifikasi Masalah
Mengenali adanya kesenjangan antara kondisi saat ini dan kondisi yang diinginkan. Hati-hati: Jangan tertukar antara masalah dengan gejala (misal: penjualan turun adalah gejala, masalahnya mungkin kualitas produk buruk).
2. Identifikasi Kriteria Keputusan
Apa yang penting dalam memecahkan masalah ini? (Misal: Biaya harus murah, waktu pengerjaan cepat, atau kualitas tahan lama).
3. Mengembangkan Alternatif
Brainstorming solusi sebanyak mungkin. Jangan mengevaluasi dulu, cukup kumpulkan ide.
4. Menganalisis Alternatif
Evaluasi setiap opsi berdasarkan kriteria di langkah ke-2. Apa kelebihan dan kekurangannya?
5. Memilih Alternatif Terbaik
Pilih opsi yang memberikan nilai terbaik atau risiko terkecil.
6. Implementasi dan Evaluasi
Keputusan baru dianggap selesai setelah dilaksanakan. Setelah itu, pantau hasilnya: Apakah masalah terpecahkan?
Gaya Pengambilan Keputusan
Setiap manajer memiliki gaya unik, yang biasanya dipengaruhi oleh cara berpikir mereka (logis vs. intuitif) dan toleransi terhadap ambiguitas. Empat gaya umum meliputi:
-
Gaya Direktif: Toleransi rendah pada ambiguitas, berpikir rasional. Cepat, efisien, dan berorientasi jangka pendek.
-
Gaya Analitis: Toleransi tinggi pada ambiguitas, berpikir rasional. Mengumpulkan banyak data dan mempertimbangkan banyak alternatif sebelum memutuskan.
-
Gaya Konseptual: Toleransi tinggi pada ambiguitas, berpikir intuitif. Berani mengambil risiko, kreatif, dan melihat gambaran besar (jangka panjang).
-
Gaya Perilaku (Behavioral): Toleransi rendah pada ambiguitas, berpikir intuitif. Sangat peduli pada orang lain, menghindari konflik, dan mengutamakan keharmonisan tim dalam memutuskan.
Kesimpulan
Pengambilan keputusan adalah jantung dari manajemen. Meskipun kita ingin selalu rasional, manajer harus sadar akan keterbatasan kognitif (bounded rationality) dan bias pribadi. Dengan mengikuti proses yang terstruktur, mulai dari identifikasi masalah yang tepat hingga evaluasi pasca-implementasi, manajer dapat meningkatkan kualitas keputusan mereka, beralih dari sekadar "menebak" menjadi keputusan strategis yang fundasional.





Belum ada komentar.